Sosial

Objectively integrate emerging core

Solidaritas Tanpa Batas Ojol, Semoga Tak Lekang Ditelan Jaman  

08 January 2020 oleh Admin


Anakbangsa, Tasikmalaya

Awal keberadaan transportasi online baik roda dua dan roda empat menjadi sebuah fenomena sosial baru dalam kehidupan anak bangsa di tanah air dalam beberapa tahun belakangan ini. Kehadiran mereka sempat menjadi polemik.

Bagi para driver konvensional yang sudah puluhan tahun beroperasi, kehadiran ojek online (ojol) atau taksi online (taxol) membuat persaingan mencari rejeki semakin sempit. Kehadiran ojek online dianggap telah merebut lahan pendaringan para driver konvensional itu dalam mencari nafkah.

Spontanitas penolakan pun terjadi di mana-mana. Ketika belum sebanyak sekarang, driver ojol kerap menjadi sasaran kemarahan para driver konvensional. Dari mulai intimidasi, persekusi, tak sedikit tindakan kriminal dialami para ojol.

Di saat bersamaan, ikatan emosional para driver online ini pun muncul. Mereka merasa sama-sama satu penderitaan. Sama-sama menjadi korban permusuhan para driver konvensional. Sama-sama menjadi kelompok kecil yang tertindas oleh kelompok besar. Tagline #SalamSatuAspal, #SalamSolidaritasTanpaBatas #SalamSaudaraTakHarusSedarah, mereka kibarkan.

Soliditas pun muncul di antara para ojol. Satu sama lain saling membantu ketika terjadi musibah kecelakaan atau jadi korban tindak kriminal. Semboyan ojol bersatu terus mereka teriakkan. Tagar #SalamSatuAspal mereka buktikan dengan saling menyapa atau sekadar berklakson saat berjumpa di jalan, meski tak saling mengenal. Ya, sebagai bentuk rasa persaudaraan.

Tradisi #SolidaritasTanpaBatas terus berkembang. Ojol semakin banyak. Hampir tiap kelurahan, perkampungan, ada ojol. Mereka pun mendirikan basecamp-basecamp tempat berkumpul atau menerima saudara ojol lainnya yang kebetulan melintas. Atau numpang beristirahat. Hidangan sekadar kopi, air mineral, snack atau mi instan menjadi jamuan bagi rekan mereka yang datang dari jauh.

Rasa persaudaraan semakin kuat. Tradisi untuk saling tolong menolong sesama ojol makin merekat. Ketika salah satu saudara se-ojol sakit, mereka pun saweran membantu secara sukarela dan semampunya.

Ketika ada keluarga ojol yang meninggal, mereka pun berbondong-bondong melayat. Tanpa SARA, siapapun dia, agamanya apa, keluarganya siapa, mereka datang melayat, hingga mengantar ke liang lahat.

Ketika ada rekan ojol lain mengalami kecelakaan, spontanitas anggota komunitas yang bertugas sebagai unit reaksi cepat (URC) bergerak tanggap membantu korban kecelakaan. Bahkan tak sedikit yang memiliki keterampilan dalam pertolongan pertama korban kecelakaan.

Info musibah sekecil apapun mereka sebar melalui WAG-WAG antarkomunitas. Anggota komunitas lain yang dalam posisi santai alias nggak ngebid, ikut bergerak mengawal korban laka lantas ke rumah sakit atau ke rumah duka, bila korbannya meninggal dunia. Kadang iring-iringan yang mengawal jumlahnya sampai ratusan sehingga membuat arus lalu lintas terganggu.

Sudah ikut membantu, mengawal, mereka pun saweran seadanya untuk memberikan bantuan demi meringankan beban keluarga korban. Tak perlu tenar, tak perlu terkenal, ketulusan menjadi prinsip saling tolong-menolong sesama para ‘pejuang aspal’ ini.

Kini, kegiatan sosial ini tak hanya bagi keluarga yang menjadi driver ojol semata. Mereka juga membuka pintu lebar-lebar bagi siapapun yang butuh pertolongan. Baik itu secara moril maupun materiil.

Seperti yang dilakukan komunitas ojol dari Tasikmalaya bernama HIDEN (Himpunan Driver Online) Priangan timur ini. Sudah beberapa kali HIDEN mengorbankan waktunya demi kemanusiaan. Mereka rela turun ke perempatan jalan sambil membawa kardus kosong yang dipasangi foto korban dari keluarga yang tak mampu, meminta bantuan kepada para pengendara yang melintas. Istilah mereka ‘ngecerek’.

Seperti aksi ‘ngecrek’ pada tanggal 3 hingga 6 Januari 2020 kemarin. Aksi ini sebagai bagian membantu keluarga Ibu Khodijah dan adiknya yang bernama Muhammad Sabandi.

Kedua warga Tamansari, Tasikmalaya ini menderita tumor mata. Penggalangan dana ini memberikan hasil lumayan, 4 juta rupiah. Tak sepeser pun dipotong. Semua hasilnya diberikan kepada keluarga korban.

Ya, semoga tradisi ini tak lekang ditelan jaman.(Yulianus Zebua/WRC Tekab Tasikmalaya)