Sosial

Objectively integrate emerging core

Ketika Tanah Terbatas untuk Hasilkan makanan, Manusia Akan Jadi Srigala Bagi Manusia Lainnya

29 December 2019 oleh Admin


 Oleh: Andre Vincent Wenas, Sekjen Kawal Indonesia

 "Government that limit corruption and put their windfalls to good use rarely face unrest. Unfortunately, oil production is now rising precisely in those countries where leadership is often in short supply." (Prof. Michael R. Ross, 2008).

Adalah William Wilberforce anggota parlemen/politikus/ negarawan yang hidup di tahun 1759 hingga 1833. Ia mewarisi usaha besar dari kakek dan ayahnya.

Hidupnya didedikasikan bagi perjuangan abolisi perbudakan di Inggris. Bahkan oleh lawan politiknya --seperti diceriterakan dalam film Amazing Grace-- dikomentari dengan noblesse-oblige (tanggungjawab agung).

Pertanyaannya, masih adakah sifat/panggilan/noblesse-oblige di antara para petinggi dan professional kita? Ketika memperoleh kedudukan dan kehormatan yang semakin tinggi, maka tanggungjawab sosialnya pun semakin besar.

Tatkala teori Thomas Malthus (An Essay on the Principle of Population, 1798) menjadi paradigma ekonomi, di mana keyakinannya adalah: populasi manusia secara alamiah akan bertumbuh mengalahkan kapasitas tanah yang terbatas untuk menghasilkan makanan, maka perilaku yang muncul bisa jadi homo homini lupus (manusia adalah srigala bagi manusia lainnya) gaya Leviathan-nya Thomas Hobbes (The Economist, May 17th, 2008, Malthus, the false prophet). Ya, akhirnya noblesse-oblige sekadar utopian alias lamunan di siang bolong.

Perlu diketahui bahwa tulisan The Economist itu sangat first-world centric (kurang seimbang dalam perspektif dunia-ketiga, negara terbelakang). Mentalitas melimpah ruah adalah prasyarat noblesse-oblige --sayangnya sering menjadi the road less travelled--. Sedangkan scarcity-mentality adalah jalan tol menuju homo homini lupus.***