Sosial

Objectively integrate emerging core

Ini Revolusi Transportasi Mental Bro, Wahai Ojol Opang Damai Itu Indah Lho…

07 January 2020 oleh Admin


Anakbangsa, Ciputat

Perkembangan teknologi digital banyak mengubah sisi kehidupan manusia di dunia. Tak hanya bisnis digital, pemasaran digital, tetapi startup teknologi di dunia transportasi pun sangat membantu dalam interaksi sosial dan interaksi ekonomi secara online.

Tidak menutup mata, teknologi decacor dan Go Go , Grab dan transportasi lain yang berbasis online, berhasil mengurangi jumlah pembelian di Indonesia.

Sayangnya, hadir teknologi tinggi start up yang mengaplikasikan roda dua (ojek online) dan roda empat (taksi online) tidak berjalan mulus. Awal-awal kemunculan mereka sempat menimbulkan gejolak sosial di masyarakat.

Penolakan keras datang dari pengusaha transportasi umum, seperti taksi, ojek pangkalan (opang) dan sopir angkot. Tak hanya melakukan demo penolakan kepada pemerintah setempat. Kadang aksi mereka disertai bentrok fisik antara kelompok driver digital dengan para driver manual itu.

Ya, lahirnya ojol dan taxol bukan lantaran sebuah evolusi semata, tapi sebuah revolusi. Karena kemunculan para driver online ini membuat kemarahan sosial dari kelompok yang gaptek alias gagap teknologi dengan kemajuan jaman ini.

Bentrok fisik pun kadang tak terelakkan. Korban terus berjatuhan. Tak sedikit harus meregang nyawa dan cacat seumur hidup. Waktu pun terus berjalan. Hampir satu dekade keberadaan transportasi online bisa bertahan hingga kini. Bahkan jangkauannya meluas hingga hampir seluruh tanah air ada transportasi berbasis online ini.

Namun persekusi, intimidasi, bahkan tindak kriminal terhadap para driver online masih kerap terjadi. Di ibukota memang sudah berkurang. Namun peraturan sepihak ala preman masih membatasi operasional ojol dan taxol.

Para preman itu membuat sebuah zona larangan. Mereka sebut sebagai zona merah. Sebuah kawasan yang sangat terlarang bagi ojol dan taxol mengambil penumpang yang mau menggunakan jasanya. Zona merah ini biasanya ada di kawasan stasiun kereta, terminal bis kota atau antarkota, pasar, mall dan sebagainya.

Contohnya, di stasiun Pondok Ranji, Tangerang Selatan, misalnya, para preman di sana membuat aturan bagi para ojek online yang tertangkep basah mengambil sewa penumpang di depan stasiun yang dijadikan zona merah, dicabut kunci motornya.

Kendaraan disandera, bila mau ditebus harus bayar minimal 200 ribu perak. Hampir setiap hari ada saja yang menjadi korban aksi premanisme ini. Sayangnya, tidak ada tindakan tegas dari aparat kepolisian atau pemerintah setempat menumpas premanisme tersebut.

Herannya, ojol yang dikenal dengan slogan #Salamsatuaspal #Saudaratakharussedarah #SalamSaudaraSeaspal, bila temannya kena musibah atau jadi korban kekerasan kriminal, untuk di kawasan stasiun Pondok Ranji, tak kompak. Tagline-tagline pemersatu itu pun seperti omong kosong.

Memang, tak semua terminal bis atau stasiun kereta menerapkan peraturan bergaya preman itu. Pangkalan bersama ojol dan ojek pangkalan di pool bis Primajasa Ciputat ini seharusnya bisa menjadi contoh seluruh anak bangsa ini.

Para sesepuh bilang; “rejeki nggak bakal lari ke mana tong…” Kebersamaan dan persaudaraan antara ojol dan opang di pool bis Primajasa ini dalam mencari rejeki harus menjadi pilot project indahnya persaudaraan dan perdamaian bagi kawasan lain yang masih menerapkan zona-zona merah (terlarang).

“Di sini kita semua saling memahami dan memaklumi. Sama-sama nyari rejeki lah,” ujar Dicky (32), Korlap Komunitas Keluarga Besar Gojek Grab Opang (KBGGO) Pool Primajasa, Ciputat, Tangerang Selatan.

Sikap saling memaklumi dan saling berbagi rejeki antara ojol dan opang ini, Dicky mencontohkan, kompilasi ada penumpang yang kehilangan hape atau tidak punya aplikasi transportasi online, para ojol menyediakan pesanan seperti ini ke opang.

“Ya tentu harga opang dong. Kalau harga online kan beda, memang lebih murah. Tapi ada bonusnya. Sementara opang kan manual, ”jelas Dicky. (Aldi / WRC Tekab Tangsel)