Nasional

Objectively integrate emerging core

Tak Cuma Bikin Jakarta Berantakan, Anies Baswedan Rusak Kebhinekaan dengan Politik SARA

29 January 2020 oleh Admin


Anakbangsa, Jakarta
Gerakan Selamatkan Jakarta atau #SaveJakarta terus bergerak menyusun kekuatan. Ada beberapa kelompok masyarakat dan komunitas turut mendukung aksi gerakan ini untuk menyelamatkan ibukota yang dinilai berantakan akibat kebijakan-kebijakan Gubernur Anies Baswedan yang kontroversial dan sarat dengan berbagai dugaan permainan anggaran.

Ketua Komunitas Anak Bangsa, Agnes Lourda Hutagalung menyatakan bahwa komunitasnya menjadi salah satu pendukung Gerakan Selamatkan Jakarta atau #SaveJakarta yang digagas Putri Simorangkir dari Komunitas Dantara (Damai Nusantara).

Hingga saat ini, Gerakan Selamatkan Jakarta sudah menggalang beberapa komunitas warga Jakarta lainnya, baik itu kelompok yang prihatin akibat kebijakan-kebijakan kontroversial atau kelompok masyarakat yang memang menjadi korban banjir di awal tahun 2020 lalu.

Kelompok tersebut berasal dari Satu Aspirasi Indonesia, Kawal Indonesia, LANDEP, Parlemen Nusantara, Dantara, BPRI, SIMA, Sporting Indonesia, Solmet, NCBI, dan GAPSI.

“Kami juga sudah menyiapkan advokat untuk menempuh jalur hukum yang bergabung bersama beberapa advokat lainnya. Baik itu class action untuk yang korban banjir maupun gugatan hukum lainnya. Termasuk mendesak legislatif untuk melakukan pemakzulan terhadap Gubernur dengan berbagai pasal pelanggaran undang-undang yang telah dia dilakukan. Sepertinya ada yang salah dengan Jakarta. Hukum punya bos politik, politik punya bos duit. Atas dasar inilah kami melawan!” tegas Lourda saat melakukan diskusi dengan Fraksi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di lantai 4 gedung baru, DPRD DKI (28/1/2020).

Sementara itu, Siska Rumondor dari kelompok Jakarta Bergerak menegaskan bahwa Gubernur Anies Baswedan bukan hanya bikin ibukota berantakan, tapi juga merusak Kebhinekaan di Indonesia sejak masa kampanye Pilkada Jakarta 2017.

“Jaman Anies ini kacaunya luar biasa. Masyarakat terbelah, terus-terusan digesek. Jakarta udah kayak kerajaan bagi dia. Apa sabda dia, harus terjadi. Padahal warga Jakarta itu majemuk, tapi Anies memecah belah dengan SARA,” jelasnya.

Senada dengan Komunitas Anak Bangsa, Jakarta Bergerak pun akan mendesak DPRD DKI Jakarta untuk memakzulkan Anies dari jabatannya.

“Bro William akan adakan Pansus Banjir. Warga secara eksplisit mendesak DPRD segera lakukan Pansus ini kemudian lakukan impeachment,” tegasnya.

Siska merasakan betul upaya Gubernur DKI Jakarta memecah belah warga Jakarta dan Indonesia saat ia dan ibu-ibu korban banjir mendemo balaikota. Dengan arogansi agama dan dalih acara maulid, Anies malah mendatangkan massa lebih besar untuk menghadang para korban banjir.

“Kita korban banjir malah dilempari botol oleh para jawara. Ada juga oknum dewan menghadang dengan politisasi agama di masjid pada acara Maulid. Politisi agama ini membuat kami ini ibu-ibu korban banjir menjadi korban para jawara. Padahal semua warga negara wajib dilindungi undang-undang,” jelasnya.

Siska menegaskan bahwa apa yang dilakukannya adalah sebagai upaya mengeritik kinerja Anies.

“Gubernur kok bilang kalau orang-orang senang dengan banjir. Ada pernyataannya pengungsi sudah balik lagi ke rumah, padahal mereka masih di pengungsian dengan kondisi menderita. Anies ini empatinya sudah nggak ada, walaupun menerima begitu banyak aduan", paparnya.

Anggota DPRD dari Fraksi PSI Viani Limardi mengaku merasakan hal yang sama dengan yang dirasakan warga saat menghadapi Gubernur DKI Jakarta.

“Terhitung sudah empat bulan kami duduk di kursi dewan. Banyak hal yang aku merasa dulu mungkin waktu di luar, "Ini salah, langsung kita lawan." Apa yang kita lihat seakan-akan itu salah, tapi ternyata saat duduk di kursi dewan belum tentu salah. Seakan-akan itu benar belum tentu benar,” ujar Viani berusaha menenenangkan kekesalan warga yang mengadu ke fraksinya.

Viani merasakan betapa dilemanya saat ia menjadi wakil rakyat. “Selama duduk di sini (kursi dewan), harus memilih, gue vokal dapat panggung atau diam-diam warga harus kita selamatkan,” ujarnya.

Soal muaknya warga dengan kinerjanya Anies Baswedan, Viani mengaku merasakan yang sama. Tapi ketika ia harus memilih melakukan pemakzulan, Viani harus realistis. Butuh 106 suara menjadi satu suara agar langkah ini bisa dilakukan.
“Mulai dari uang aibon, penanganan banjir yang nggak beres, sekarang masalah Monas. Kita sama-sama muak dengan kondisi ini. Pertanyaannya, yang 106 itu bisa satu suara apa nggak?” ujarnya.

Namun demikian, menurut Viani, bukan tidak mungkin dia dan rekan-rekannya yang relawan di lain fraksi untuk sama-sama berjuang menangani berbagai isu yang berkembang di DPRD.

“Relawan banyak banget di fraksi lain. Tapi Semua fraksi punya kepentingan masing-masing,” terangnya.

Viani menegaskan bahwa PSI, selalu siap menjadi akses keterbukaan informasi bagi masyarakat Jakarta.

“Itu kelebihan kami. Kami dan warga Jakarta harus saling mengatur posisi. Semangatnya adalah kinerja. Jakarta baik kalau ada pemimpin yang baik. Waspadai kita ini sedang perang opini. Yang bisa mengalahkan opini itu fakta,” tandasnya diplomatis.(dm)