Nasional

Objectively integrate emerging core

Bajaj Ngeles Biasa Aja, Anies Baswedan Ngeles Udah Biasa….

28 January 2020 oleh Admin


Anakbangsa, Jakarta

Di sebuah ruangan berkaca transparan, Politisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) William Aditya Sarana duduk santai. Berkemeja putih lengan pendek dipadu celana panjang coklat muda sedikit cingkrang, politisi berusia 23 tahun ini terlihat cukup bersabar menunggu kedatangan sejumlah warga Jakarta yang ingin mengadukan berbagai keluhan.

Tak ada penjagaan khusus di lantai empat gedung baru DPRD DKI Jakarta. Petugas resepsionis pun tak terlihat. Suasana terasa nyaman saat memasuki ruang tamu. Baru saja duduk, seorang pria muda datang sambil membawa beberapa botol air mineral di atas nampan. “Silakan diminum,” ujarnya ramah.

Ya, Selasa (28/1/2020) William sudah meluangkan waktunya untuk bertemu beberapa perwakilan komunitas warga Jakarta. Hari itu kegiatan William memang padat. Meski sudah dijadwalkan pertemuan tepat pukul 08.00 WIB, ia tak terlihat gusar meski molor setengah jam . Bahkan ia terlihat mengalah untuk tetap memberikan waktu buat warga yang diwakilinya sebagai tempat curhatan.

“Maaf ya bro William, kami telat,” kata Putri Simorangkir, Ketua Gerakan Selamatkan Jakarta.

William yang selalu tampil cool hanya membalas dengan senyuman. “Yuk kita ke ruangan besar,” ajaknya seraya menunjukkan beberapa ruangan anggota fraksi PSI lainnya.

“Ruangan itu kami jadikan studio. Jadi setelah kami rapat kemudian hasil rapat mau kami sampaikan ke warga lewat medsos, rungan ini dijadikan studio,” jelasnya sambil menunjukkan sebuah ruangan yang tak terlalu besar, tapi berlatar belakang warna terang.

“Termasuk bongkar-bongkar anggaran ya,” cetus Putri. William hanya membalas dengan cengiran sebentar, lalu kembali memasang tampang cool.

Ruangan fraksi PSI ini memang tak terihat seperti ruangan fraksi partai lain. Tidak ada tampang-tampang orangtua dengan kacamata tebal dan wajah garang atau emak-emak berdandan menor pasang muka cemberut yang sengaja dipajang di depan pintu masuk ruangan.

Di ruangan fraksi ini semuanya terisi anak-anak muda bergaya milenial. Mereka tampak sibuk berlalu lalang. Sulit membedakan mana anggota dewan atau staf ahli yang membantu pekerjaan sehari-hari para wakil rakyat. 

Di sebuah ruangan besar, William didampingi Ketua Fraksi PSI Idris Ahmad dan anggota PSI wanita Viani Limardi, menerima perwakilan dari beberapa komunitas warga Jakarta.

Meski di media-media William, Viani atau Idris Ahmad sudah cukup tenar, mungkin karena usia mereka terpaut jauh dari warga yang mengadu, ketiganya pasang sikap merendah. Mereka tetap mengenalkan dirinya masing-masing.

“Fraksi PSI DPRD DKI Jakarta membuka diri bagi warga yang ingin mengadukan semua persoalan. Karena kami merasa warga adalah partner kami untuk menjadikan Jakarta lebih baik. Apalagi, warga yang berinisiatif membentuk komunitas-komunitas ini bisa bekerja sama dengan kami di sini. Kami juga akan terus mengupdate beragam informasi tentang kinerja fraksi PSI termasuk informasi anggaran-anggaran,” papar Ketua Fraksi PSI Idris Ahmad.

Disinggung soal banjir ibukota di awal tahun 2020 yang menjadi aduan awal Putri dan kawan-kawannya dari berbagai komunitas hari itu, seperti Kawal Indonesia yang diwakili Sekjen Andre Vincent Wenas, Komunitas Anak Bangsa dengan ketua Agnes Lourda Hutagalung, Komunitas Jakarta Bergerak yang diinisiasi Siska Rumondor, Idris mengatakan bahwa Fraksi PSI akan membentuk Pansus banjir.

“Banjir kali ini penanganannya paling parah,” sahut Bro William.

Menurut William, Pansus ini sudah disetujui oleh fraksi-fraksi lainnya. Namun dia mengingatkan bahwa Pansus ini tidak memiliki kekuatan hukum apa-apa.

“Sifatnya hanya rekomendasi kepada gubernur. Tapi kenapa jadi ramai dan semua fraksi setuju, karena mereka ingin menunjukkan bahwa mereka peduli dan berusaha meraih simpati publik,” ungkapnya dengan nada kesal.

Putri Simorangkir yang menjadi motor penggerak beberapa komunitas warga Jakarta dan  tergabung dalam Gerakan Selamatkan Jakarta atau #SaveJakarta mengaku hanya mempercayai fraksi PSI di DPRD DKI Jakarta sebagai tempatnya mencurahkan isi hatinya sebagai warga ibukota.

“Kami sebagai warga Jakarta, sebenarnya sudah gemes sama gubernur DKI ini. Kami meminta dukungan dari PSI untuk melakukan langkah-langkah baik politik dan hukum untuk melengserkan Gubernur Anies Baswedan dari jabatannya. Kalau dari fraksi lain, saya nggak percaya!” tegas Putri menjelaskan maksud kedatanganya hari itu.

Berbagai uneg-uneg pun terlontar dari warga asal Kemang, Jakarta Selatan ini. Mulai dari aksi pembangkangan Gubernur Anies dengan pemerintah pusat dalam menangani banjir, berbagai kerusakan akibat dampak banjir, ketidak becusan anak buahnya di lapangan, pemborosan APBD, serta tidak transparannya soal anggaran.

“Dia pikir itu duit nenek moyangnya kali. Anggaran dibikin ugal-ugalan, duit rakyat dihibahkan ke ormas-ormas nggak jelas. Tidak punya prioritas dalam tugas & tanggungjawab. Malah seringkali melempar tanggungjawabnya ke pemerintah pusat. Bajaj aja kalah ngelesnya sama ngelesnya Anies,” cetus Putri.

Sementara itu, Aan Mulyana  dari Kawal Indonesia mengadukan berbagai temuan di lapangan yang membuktikan bahwa Anies Baswedan sebagai gubernur nol kerjanya.

“Kita bicara soal angkutan kota. Sepertinya nggak ada pengawasan & evaluasi program angkot Ok Otrip/Jaklingko/Minitrans. System tap-in atau tap-out menggunakan kartu untuk angkot tidak efektif, memperlambat pelayanan. Mesin kadang nggak responsif, malah banyak yang rusak. Kadang penumpang ribut sama sopir gara-gara ini bikin jalanan jadi macet,” terang Aan.

Aan menduga, program Ok Otrip/Jaklingko/Minitrans ini cuma buat bancakan proyek pengadaan alat saja.

“Oh iya, mungkin bisa ditelusuri juga adanya dana mengalir ke ormas terlarang seperti HTI & FPI. Jika terbukti ini juga pelanggaran serius & pembangkangan. Sudah dilarang & satu ormas izinyan tidak diperpanjang. Diduga modusnya menggunakan ormas abal-abal atau dititipkan menggunakan ormas yang terdaftar agar dana itu cair,” terangnya.

Menurut Aan, Anies Baswedan ini terkungkung dengan politik balas budi pada partai politik dan para pendukungnya. Sehingga, anggaran-anggaran yang dibuatnya itu banyak yang tak masuk akal.

“Kami mendukung fraksi PSI untuk terus mengawasi dan mengawal uang negara hasil pajak rakyat. Hanya PSI yang kami percata bisa vocal. Buktinya, anggaran tahun 2018 saat PSI belum ada, aman-aman saja. Dan mulai keliatan janggalnya ketika program jalan. Salah satunya revitalisasi Monas, penggundulan hutan Monas ini harus dibuka selebar-lebarnya biar kelihatan penyelewengan anggarannya,” papar Aan.

Viani yang duduk di sebelah Aan pun nyeletuk sadis; “Jangankan Monas, nih di depan kita colokan kabel di atas meja, berfungsi juga nggak. Begini ini proyek pengadaan peralatan kantor aja nggak ada benernya!” (dm)