Ekonomi

Objectively integrate emerging core

Ekonomi Dunia Terjun Bebas, Konflik Dagang Memanas, Dari Jaman Nenek Moyang Indonesia Sudah Siapkan Payung Sebelum Hujan  

30 December 2019 oleh Admin


DALAM  bukunya yang diterbitkan Penguin Books, pada tahun 2012 yang berjudul ‘Antifragile: How to Live in a World We Don’t Understand’, 2012, Nassim Nicholas Taleb mengatakan; “We have been fragilizing the economy, our health, political life, education, almost everything…by suppressing randomness and volatility.”, --

Prediksinya didukung dengan konfrensi Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) di Paris pada bulan November 2019 lalu. OECD merilis perkiraan pertumbuhan ekonomi global tahun 2020 dari 3,0 persen turun menjadi 2,9 persen.

Ini sebuah peringatan:. tahun 2020 yang bakal tiba dalam hitungan jam ini, ekonomi dunia bakal mengalami risiko stagnasi panjang, konflik perdagangan, lemahnya investasi bisnis dan ketidakpastian politik.

Kepala Ekonom OECD, Laurence Boone mengingatkan, ketika bicara prospek 2020 di Paris adalah kesalahan jika mempertimbangkan perubahan ini sebagai faktor sementara yang dapat diatasi dengan kebijakan moneter atau fiskal: sebab mereka adalah struktural.

“Tanpa koordinasi untuk perdagangan dan perpajakan global, arah kebijakan yang jelas untuk transisi energi, ketidakpastian akan terus membayangi dan merusak prospek pertumbuhan," ujarnya.

Menyikapi persoalan struktural ini, Sekjen Kawal Indonesia, Andre Vincent Wenas dalam press releasenya di Jakarta, Senin (30/12/2019) menegaskan perlunya tindakan radikal demi mengatasi tingginya tingkat ketidakpastian yang dihadapi akibat perubahan mendasar di tataran ekonomi global.

Menurut Andre, gambaran besarnya rada suram. Pertumbuhan lokomotif ekonomi dunia, yakni Amerika Serikat di tahun 2020 saja diprediksi melambat menjadi 2%, bahkan terus berlanjut sampai 2021.

Di kawasan Eropa dan Jepang, pertumbuhan diperkirakan sekitar 1% saja. Negara-negara Eropa dan Jepang bergantung pada ekspor. Diprediksi dua raksasa ekonomi dunia ini, perdagangannya bakal terjun bebas.

Sementara pertumbuhan Negara Jerman diproyeksikan sekitar 0,4%, Prancis dan Italia masing-masing sebesar 1,2 % dan 0,4%. Secara global, volume perdagangan barang dan jasa diprediksi melambat ke level terendah selama dekade ini, cuma sekitar 1%.

Penyebabnya, menurut Laurence Boone, setiap peningkatan lebih lanjut dari konflik perdagangan akan mengganggu jaringan pasokan dan membebani kepercayaan, pekerjaan dan pendapatan.

“Ketidakpastian tentang hubungan perdagangan UE-Inggris di masa depan menimbulkan risiko lebih lanjut untuk pertumbuhan seperti halnya tingginya utang perusahaan saat ini," katanya.

Dampak ketidakpastian dan lesunya perekonomian global, kembali ke Andre, akibat imbas ke tataran lokal. Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2020 mengalami pesimistis. Di tahun 2020 potensi pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan sekitar 4,9% - 5,1%.

“Artinya sama atau bisa lebih rendah dari tahun 2019,” tambahnya.

Politisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) ini membuka laporan Badan Pusat Statistik (BPS) bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,02% secara tahunan (year on year) pada kuartal III 2019. Angka ini beda tipis dibanding pertumbuhan ekonomi kuartal II 2019 yang mencapai 5,05%.

“Yang terpenting ialah pertumbuhan ekonomi sebesar 5,02 persen tersebut masih tetap mendukung berjalannya ekonomi dan pertumbuhan permintaan dalam negeri. Aspek penting yang perlu dijaga adalah confidence level (tingkat kepercayaan) ekonomi Indonesia tetap bisa bertahan,” ujarnya.

Karena itu, terang Andre, perlu pendekatan lebih aktif dan persuasif kepada para pelaku usaha. Program stimulus bagi dunia usaha perlu diperluas, termasuk inisiatif omnibus-law yang bisa memberikan kepastian hukum bagi para pelaku usaha.

“Ini semua bisa menjaga bahkan meningkatkan level keyakinan para pelaku usaha,” katanya.

Andre tak memungkiri bahwa perang dagang antara AS vs RRT memberi dampak lesunya pertumbuhan ekonomi global maupun lokal.

“Namun kita toh tidak bisa terus-menerus menyalahkan lingkungan luar. Seperti ungkapan; don’t just blame it on the rain! Makanya, sedia payung sebelum hujan sudah menjadi idiom sejak jaman nenek moyang,” cetusnya.

Dikatakan Andre, resesi ekonomi bisa saja menjalar ke krisis sosial tatkala dampak kebijakan --misalnya pemangkasan anggaran dan peningkatan pajak-- justru semakin meresahkan masyarakat.

Alhasil, banyak pemerintah di berbagai belahan dunia lebih mengedepankan kebijakan yang pro pertumbuhan ketimbang sekedar menurunkan defisit anggaran.

“Restrukturisasi ekonomi domestik dan pertumbuhan perdagangan adalah dua resep ganda untuk keluar dari tekanan resesi,” tandasnya.(dm)